Harapan Terakhir Kita Adalah Pasangan Kita!

Happy Old Couple

”Terbesit suatu ketakutan ketika saya berfikir tentang hari tua esok. Mengapa saya takut? Karena saya takut ketika saat itu tiba, saya akan hidup seorang diri.” -Andre

Saat kita tua nanti, siapakah yang peduli dengan kita? Apakah anak-anak kita? Saya rasa tidak! Anak-anak kita yang nantinya akan mempunyai keluarga sendiri, pastinya akan lebih sibuk dengan kondisi daripada keluarganya sendiri. Seperti keluarga pada umumnya, Sepasang suami-istri bekerja keras membanting tulang untuk anak-anaknya, bukan untuk Orang Tua-nya! Banyak orang tua-orang tua yang mengalami kejadian seperti ini: Terkena berbagai penyakit sehingga tidak mampu beraktivitas dengan baik, hidup sendiri di dalam rumahnya dengan seorang suster yang membantu mereka, anak-anak dan cucu-cucunya sangat jarang sekali mengunjungi mereka karena sibuk bekerja, sekolah, atau kegiatan yang lain, mereka dianggap sebagai ”parasit” oleh anak-anaknya karena sering sakit sehingga butuh biaya pengobatan, butuh biaya makan-minum, biaya listrik-air-telepon bulanan, biaya hidup sehari-hari dan lain-lain, lebih parahnya anak-anaknya saling memperebutkan harta warisan orang tuanya (yang nota bene: Menginginkan kematian orang tuanya lebih cepat) atau anak-anaknya tak sanggup lagi mengurus sehingga dengan (terpaksa?) menitipkan mereka ke dalam panti jompo. Ironis bukan?

Tak tahu kah kita? Apa yang terjadi di atas akan juga terjadi pada kita. Dan Harapan terakhir kita adalah pasangan kita, Suami/Istri yang mendampingi kita selama kita hidup dan berkeluarga hingga saat kita menuju ke Surga. Hanya Pasangan kitalah yang sangat peduli dengan kita. Ketika manusia berkeluarga dan memiliki anak-anak, maka suatu hal yang terpenting dari mereka adalah anak-anak mereka. Ketika anak-anak mereka berkeluarga dan memiliki anak-anak pula, maka suatu hal yang terpenting bagi mereka pun juga adalah anak-anak mereka. Begitulah seterusnya…Jadi siapakah yang patut disalahkan pada hubungan Orang tua-Anak-Cucu?

”Dan ketika hari tua itu tiba, satu hal yang masih kupercaya bahwa engkau masih setia mendampingi aku dan aku tidak sendiri….” -Andre

Iklan

4 thoughts on “Harapan Terakhir Kita Adalah Pasangan Kita!

  1. Kayaknya ngga mungkin deh. Kan nanti kita udah sama sama tua.

    Apa mulai dari sekarang harus nyari bayi-bayi baru lahir (pilih yang cakep), lalu 20 tahun kemudian kita nikahi.

    Agar 20 tahun kemudian dia jadi harapan kita. Hohoho, idegila.

    Becanda.

    Harapan terakhir gw adalah, apa yang gw tanam hari ini, itu yang gw tuai nanti.

    Anyway, nice blog you have here.

    The Answer:
    Hi Leonardo! Salam kenal..
    Sebenarnya yang menjadi harapan kita di masa akhir tua kita untuk diri kita sendiri adalah kita tidak sendirian. Maksud saya dengan “harapan terakhir” adalah mengacu pada “mendampingi” kita saat kita tua nanti..
    btw, menanam hari ini belum tentu bisa kita tuai hari esok..Mudahnya seperti menanam pohon, belum tentu kita dapat memanen semua yang kita tanam.. Untuk itulah kita butuh “Harapan terakhir”…semoga kita semua mendapatkan pasangan yang selalu setia..(Amien..)

  2. hidup kita berakhir ketika kita kehilangan semangat muda. Gue gak mao jadi orang tua yang lemes dan sudah capek untuk mencoba hal-hal yang baru. Gue mao merasa muda sampai kapanpun.

    The Answer:
    Yup! Itu baru namanya semangat!!! Tapi topik diatas adalah mengenai problema orang tua dengan anak-anaknya yang telah berkeluarga… Semangat kita bisa luluh ketika anak-anak yang paling kita cintai didunia ini menjadi tidak perhatian/peduli terhadap kita yang telah tua ini.. dan (mungkin) harapan terakhir kita adalah pasangan kita…

    thx for coming…salam kenal Jed!!

  3. admin berkata:

    Raga boleh tua, tapi jiwa dan semangat tetap muda.

    Tapi sekarang sulit bos cari pasangan yang mau mengerti dan percaya ma kita padahal kita dah percaya sepenuhnya sama dia, tapi pas kita dipercayai ma orang lain kitanya yang gak mau mengerti dia….

    sory, lagi desperate…. but what you are writing is nice.

    The Answer:
    Saya setuju dengan anda! Bahwa sekarang sulit mencari pasangan yang baik pada kita..tapi bukankah sebaiknya kita juga harus introspeksi diri juga mengenai hal ini? Apakah kita sudah menjadi pasangan yang baik untuk pasangan kita? Saya percaya bahwa hanya Tuhanlah yang menentukan jodoh yang mau menemani kita (dan kita juga akan setia menemani dia) hingga tua nanti..

    Untuk yang lagi desperate…tetap semangat! Niscaya anda bisa menemukan “harapan terakhir” anda kelak…:D

  4. seorang anak gak memilih untuk dilahirkan. jadi emang bukan kewajiban mereka untuk selalu mendampingi kita, ortunya. walaupun yah harusnya karena ada hati dan moral, mereka akan tetep memperhatikan ortunya. tapi balik lagi itu bukan kewajiban buat mereka.

    sebaliknya, kita si ortu, memilih untuk punya anak. disitu jadi pemicu kewajiban kita terhadap anak.

    jadi emang gak bisa dibalik. anak itu kewajiban ortu tapi ortu bukan kewajiban anak.

    sedangkan dengan pasangan itu emang berdasarkan pilihan kita sendiri. kita memilih pasangan dan kita memilih bahwa kita akan sehidup semati ama dia dan berjanji di hadapan Tuhan. jadi karena itu pilihan kita sendiri, ya emang kita harus pegang teguh. jadi ya betul seperti yang ditulis di postingan ini, emang harapan kita ya adalah pada pasangan. Dengan pasangan, kita akan terus saling mendampingi sampe maut yang memisahkan… ceileee… 🙂

    The Answer :
    Seorang anak memang tidak memilih untuk dilahirkan, tapi adalah suatu berkat yang luar biasa ketika mereka diberi kesempatan untuk hidup di dunia dan itu karena orang tua yang melahirkan mereka. Jadi menurut saya, ironis sekali ketika sang anak mengabaikan ortu-nya dimasa tua mereka. Idealnya adalah sebuah keluarga sehat memiliki hubungan harmonis dengan anak-anak mereka dan orang tua mereka dan hidup ‘happily ever after’..hehehe:) tapi gak mungkin deh kayanya…;)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s