Mengapa SDM Indonesia Sangat Buruk?

Beberapa hari yang lalu saya sempat mendengarkan salah satu radio Surabaya yang membahas tentang betapa buruknya SDM Indonesia. Contoh sederhana yang bisa menunjukkan fakta ini adalah ketika SDM Indonesia dikirim ke luar negeri, akan jadi apakah mereka disana? Begitu pula sebaliknya, ketika SDM dari luar negeri masuk ke dalam Indonesia, akan jadi apakah mereka disini? Nah, menurut anda bagaimana? Siapakah yang dibayar akan dibayar lebih tinggi? SDM Indonesia yang dikirim ke luar negeri ataukah SDM Luar yang masuk Indonesia? Ya! Menurut data, di negeri sendiripun (Indonesia.red) SDM Luar akan dibayar lebih mahal ketimbang SDM Indonesia itu sendiri. Ironis bukan?!

“Mengapa terjadi demikian?” Demikianlah pertanyaan yang terlontar dari host radio tersebut. Terjawab pula bahwa hal ini terjadi karena Indonesia adalah negara yang tidak menghargai profesi-profesi pekerjaan yang kritis, yaitu guru/dosen/pengajar. Padahal kalau kita cermati, seorang guru dapat mencetak profesi-profesi besar yang lain seperti Dokter, Insinyur, Artis, bahkan Presiden! Hal ini tentu saja mengherankan, bagaimana bisa profesi yang kritis (guru) tersebut dibayar dengan harga yang sangat murah! Saya juga sempat melihat sekilas acara televisi ‘Saatnya Jadi Idola’ tadi siang yang menampilkan seseorang dengan pekerjaan sebagai guru, dan anda bisa bayangkan bahwa Beliau dibayar Rp 8000,- untuk per jamnya, dan Beliau mengajar dengan total jam kerja 8 jam seminggu, jadi Beliau hanya mendapatkan gaji sebesar Rp 64.000,- dalam seminggu!! What a poor Indonesia teacher… Maukah anda dibayar seminggu sebesar Rp 64.000,- untuk mencetak profesi-profesi yang lebih superior? I don’t think so….

Berbeda dengan di negara lain yang sangat menghargai profesi seorang guru. Misalnya di Jepang, apabila terjadi sebuah bencana alam, hal yang harus diketahui adalah berapa banyak guru yang menjadi korban. Atau di negara lain dimana profesi seorang guru dihargai dengan hormat setinggi-tingginya dan gaji yang lebih ’empuk’ serta fasilitas yang memadai. Jadi bagaimana cara agar SDM Indonesia menjadi lebih baik? Setelah membaca tulisan diatas, tentu saja mudah sekali menjawabnya. “Hargailah profesi seorang guru lebih tinggi!” Tapi lagi-lagi pertanyaan yang lebih susah adalah “Maukah kita?”

PS: Semoga bisa menjadi sebuah renungan untuk kita…

Iklan

3 thoughts on “Mengapa SDM Indonesia Sangat Buruk?

  1. wah ya memang itu betul bang,
    sebelumnya selamat dulu telah mendapat pencerahan dengan datang di dunia wordpress.com

    gaji di Indonesia memang kecil, hal tersebut bukanlah salah dari perusahaan/ negara yang membayar karyawan tersebut. Melainkan salah dari pola pikir pekerja Indonesia, kesalahan terbesar karyawan Indonesia menurut saya ya masalah pola pikir tersebut. Karena pola pikir karyawan di Indonesia bukanlah untuk mendedikasikan pekerjaannya untuk instasi tempat ia bekerja melainkan untuk uang. Hal tersebut menjadikan perusahaan menganggap bahwa karyawan tersebut tidak layak untuk dibayar murah.

    Kalau Guru itu masalah yang lain, memang secara kualitas pendidikan di Indonesia itu tidak lebih baik dari kualitas pendidikan di luar sana, tetapi kualitas pengajar nya bagaimana!?

    Selain itu, guru di Indonesia juga mayoritas mengajar hanya sekedar untuk mengajar saja….. Yang lulusan superior itu kan cuma sedikit! yang superior itu juga kan jarang ada yang ikut kata guru…… (nantikan postingan saya mengenai pola pikir manusia Indonesia)

    The Answer:
    Ya! Itulah masalahnya bung! Bagaimana mau mengajar dengan baik jikalau Beliau tidak dihargai profesinya? Atau setidaknya begini.. ‘Siapa yang saat ini masih bercita-cita dengan hati yang luhur menjadi seorang guru SD/SMP/SMU?’…Tentu saja tidak ada yang mau! Yang lulusan superior pun akan lebih memilih profesi sebagai seorang consultant yang bayarannya jelas lebih tinggi daripada profesi seorang guru. Lalu kemudian, siapa yang jadi guru SD/SMP/SMU saat ini? Orang-orang yang (nota bene) ‘terpaksa’ jadi guru karena tidak punya pekerjaan lain? Banyak sekali kasus seperti itu di Indonesia..Itulah sebabnya mengapa SDM Indonesia buruk…karena yang mengajar mereka buruk..karena tidak dihargai baik secara finansial maupun profesi….ironis…

  2. wah udah diganti ya templatenya…tambah keren 😉

    aku sendiri juga jengkel
    aku kan juga tenaga pendidik di sebuah univ swasta yg lumayan beken di sby…
    tapi iri kalo lihat dosen2 di luar negeri yang dibayar mahal untuk ngajar dan melakukan research.
    di tempatku dosen lebih banyak disuruh melakukan kegiatan administrasi yg ga berguna!!!
    sehingga tidak ada waktu untuk research yg bisa ningkatin jabatan dan gaji.
    kalo researchpun bayaranya dikiiiit…
    kalo di luar para profesor yg suka research bakal mampu beli rumah di perumahan elit, dan mobil2 sport ( di australia)
    nah di sini para prof masih banyak yg harus naik bemo atau bus kalo ke kampus…;
    ironis yaa…
    kapan bangsa kita maju?

    The Answer :
    “Kapan bangsa kita maju?”….Hmm, pertanyaan yang sulit dijawab..pertanyaan yang sudah terlontar bertahun-tahun yang lalu namun tetap saja tak terjawab…*sigh..*. Bener-bener suatu hal yang ironis ya Joanne? Begitulah yang terjadi di Indonesia..mungkin kalo ingin menjawab pertanyaan Joanne adalah apabila ada masanya ketika Pengajar di Indonesia sudah dihargai dengan sesuai…..Salam!

  3. lebih ironis lagi kyak gini nih…
    disini, indonesia, guru pada demo menuntut pengangkatan jadi PNS
    disana, pemerintah singapura malah ngemis sama citizennya supaya ada yang jadi guru.

    disini, indonesia, semua orang antri jadi PNS
    disana, singapore, malah PM nya minta kenaikan gaji sama DPRnya supaya di masa datang, lebih banyak citizen singapore yang mau kerja di public service (termasuk diantaranya guru dan tenaga kesehatan)

    hihihihi….memang dunia tidak adil….

    salam kenal
    kaskuser

    The Answer:
    Beda sekali dengan di Indonesia ya..Terima kasih Cak Topan memberikan masukan informasi yang bagus..Salam kenal CAK!

    ps: Caktopan juga kaskuser ya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s